Hai Pendidikan Nasional 2026 membawa cerita berbeda bagi SMA Barunawati Surabaya. Karena Petugas Pembaca Naskah UUD 1945 adalah siswa kelas XI di sekolah yang berada di Jalan Perak Barat 173, Surabaya, dia adalah Karissa Vegaa. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Ibu Khofifah, Sang Gubernur Jawa Timur. Upacara . Berikut ini adalah catatan yang dibuat dan dituturkan kepada kami.
"Perkenalkan, nama saya Karissa Vegaa, siswi kelas XI-B1 dari SMA Barunawati Surabaya. Pada kesempatan ini, saya ingin menceritakan pengalaman berharga saya dalam mengikuti upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat provinsi.
Pengalaman ini bermula ketika saya dipanggil oleh Bu Mussy dan diberi kabar bahwa ada undangan dari Dinas Pendidikan (Dispendik) untuk mengikuti kegiatan upacara Hardiknas. Tidak semua sekolah mendapatkan kesempatan ini, dan SMA Barunawati menjadi salah satu yang terpilih. Dari sekolah kami, hanya satu siswa yang akan dikirim sebagai perwakilan, dan saya terpilih untuk hadir. Kabar tersebut datang secara mendadak, sehingga saya tidak memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
Awalnya, saya mengira bahwa kegiatan tersebut hanya berupa pembekalan atau materi tentang upacara Hardiknas. Namun, setibanya di lokasi, saya terkejut karena pada hari itu langsung diadakan seleksi untuk Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) tingkat provinsi. Peserta yang hadir pun sangat banyak, mulai dari siswa SD, SMP, hingga SMA.
Sejujurnya, saya merasa kaget karena tidak memiliki persiapan sama sekali, bahkan tidak ada niat awal untuk mengikuti seleksi tersebut. Namun, saya mencoba untuk tetap mengikuti seluruh aturan dan tahapan seleksi dengan maksimal. Seiring berjalannya proses, saya mulai merasa tertantang dan semangat saya pun muncul. Meskipun rasa grogi dan takut tidak lolos terus menghantui, saya tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Alhamdulillah, dari sekian banyak peserta yang mengikuti seleksi, saya berhasil lolos dan menjadi salah satu dari 22 siswa terpilih. Seleksi tersebut berlangsung cukup panjang, dimulai dari pukul 15.00 hingga 19.00.
Keesokan harinya, kami langsung menjalani latihan di Dispendik selama dua hari untuk meningkatkan kemampuan kami. Setelah itu, kami dikirim ke Garnisun untuk mendapatkan pelatihan lebih intensif dari pelatih profesional yang akan membimbing kami hingga hari pelaksanaan upacara.
Pada hari pertama latihan di Garnisun, saya merasa takut dan kurang percaya diri. Namun, saya berusaha untuk tetap mengikuti setiap arahan pelatih dengan sungguh-sungguh, mengingat waktu menuju hari pelaksanaan hanya kurang dari satu minggu. Kami juga diberitahu bahwa selama persiapan, kami akan tinggal di asrama hingga hari H, sehingga kami mendapatkan surat dispensasi dari sekolah.
Memasuki hari kedua latihan di Garnisun, ternyata diadakan seleksi kembali untuk menentukan 12 orang yang akan menjadi pengibar bendera inti. Hal ini di luar dugaan saya, karena sebelumnya saya mengira 22 peserta sudah pasti menjadi bagian utama. Saat pengumuman, saya merasa sangat sedih dan kecewa karena tidak terpilih sebagai pengibar bendera, melainkan hanya sebagai cadangan.
Perasaan saya saat itu sangat campur aduk. Saya merasa belum bisa memberikan hasil terbaik untuk sekolah, keluarga, maupun diri saya sendiri. Namun, di tengah kekecewaan tersebut, pelatih memberikan kesempatan lain dengan menawarkan seleksi bagi peserta yang mampu membaca UUD 1945.
Saya melihat ini sebagai peluang kedua. Dengan penuh tekad, saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi tersebut. Saya mulai membangun kembali rasa percaya diri dan berusaha membuktikan bahwa saya tetap bisa berkontribusi dalam upacara Hardiknas.
Proses seleksi pembaca UUD tidaklah singkat, melainkan berlangsung hingga H-1 pelaksanaan upacara. Selama proses tersebut, saya masih sering merasa sedih dan khawatir tidak terpilih. Namun, saya terus berlatih, mempelajari teknik membaca yang baik, serta mengikuti arahan pelatih dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya, usaha saya membuahkan hasil. Saya terpilih sebagai pembaca UUD 1945 pada upacara Hardiknas tingkat provinsi. Perasaan bahagia dan bangga tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan kesempatan untuk menemukan jalan lain menuju keberhasilan.
Dari pengalaman ini, saya belajar untuk tidak mudah menyerah, tetap percaya diri, dan selalu memanfaatkan setiap peluang yang ada. Saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari momen penting ini dan membawa nama baik sekolah saya".
Nah sobat muda..... semoga cerita diatas bisa meng-inspirasi kita semua.... Selamat Ya Vegaa.......